Mohammadnabiels’s Blog

May 9, 2009

Profil PSIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Filed under: Profil PSIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta — mohammadnabiels @ 6:02 am

Program Studi Ilmu Keperawatan

Program Studi Ilmu Keperawatan bertujuan untuk menghasilkan lulusan berkualitas yang dapat menjadi tenaga ahli terampil di bidang keperawatan, beriman dan bertaqwa, berintegritas tinggi, berwawasan luas, dan profesional, berdasarkan relevansi dan kebutuhan pasar melalui peningkatan kualitas penelitian dan pendidikan serta berperan serta dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Gelar Akademik yang diperoleh adalah Sarjana Keperawatan (S.Kp)

. Tujuan

1) Tujuan umum

Menghasilkan profesi Ners (Ns) dengan kualifikasi akademik Sarjana Keperawatan (SKep) yang beriman dan bertaqwa, berintegritas tinggi, mempunyai keunggulan yang kompetetitif dalam persaingan global serta mampu mengintegrasikan ilmu keperawatan dan ilmu pengetahuan keislaman sehingga mampu berkontribusi dalam peningkatan kualitas derajat kesehatan bangsa Indonesia.

2) Tujuan khusus

a) Memiliki sikap profesional dan Islami

b)Mampu melaksanakan asuhan keperawatan

c)Mampu mengelola pelayanan keperawatan di ruang rawat inap

d)Mampu melaksanakan penelitian sederhana

e)Mampu berperan sebagai pendidik tenaga keperawatan yang berada di ruang lingkup tanggung jawabnya

b. Kompetensi

Kompetensi lulusan Program Studi ilmu keperawatan di FKIK Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah adalah sebagai berikut:

1) Kompetensi Dasar

a)Mampu memahami dan menerapkan nilai nilai Keislaman

b)Mampu menjadi warga negara Indonesia yang baik (Kewarganegaraan)

c)Mampu menggunakan bahasa Arab secara pasif

d)Mampu menggunakan bahasa Inggris secara pasif dan aktif

e)Mampu mengintegrasikan ilmu fiqih dalam keperawatan (Fiqih kesehatan)

f) Mampu melakukan Praktek ibadah dan qiroah

2). Kompetensi Utama

a) Keterampilan keilmuan dan dasar-dasar keperawatan· Keterampilan menerapkan konsep keperawatan lintas budaya (transcultural nursing) dalam proses keperawatan· Keterampilan menerapkan konsep hubungan bantuan (Helping relationship)· Keterampilan mengumpulkan data dalam proses keperawatan· Keterampilan melakukan analisis data dalam proses keperawatan· Keterampilan merencanakan asuhan keperawatan dengan melibatkan klien dan keluarga dalam proses keperawatan· Keterampilan melaksanakan tindakan keperawatan· Keterampilan melakukan evaluasi dan revisi proses keperawatan· Keterampilan melakukan dokumentasi asuhan keperawatan· Keterampilan mengelola pelayanan keperawatan di ruang rawat inap pada kasus yang lazim terjadi· Keterampilan mengelola masalah kesehatan yang lazim terjadi pada individu, keluarga dan masyarakat · Kemampuan menjadi anggota tim dalam pelayanan kesehatan · Memiliki tanggung jawab profesional

3). Kompetensi Pendukung

a) Keterampilan memanfaatkan berbagai sumber ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi terkini

b)Mampu melaksanakan Riset keperawatan tingkat pemula

Keperawatan Medikal bedah

Filed under: Keperawatan Medikal bedah — mohammadnabiels @ 5:43 am

Medical Bedah

PENDAHULUAN

            Keperawatan adalah profesi unik, profesi yang menangani respon manusia dalam menghadapi masalah kesehatan, dan secara esensial menyangkut kebutuhan dasar manusia, ini menempatkan  art and science  sama pentingnya.

Teori dan keterampilan keperawatan   diaplikasikan pada manusia kadang-kadang kurang bias diprediksi (hasilnya). Ini terjadi bukan karena sains keperawatan tidak precise tetapi lingkup garapan keperawatan adalah respon manusia dan tidak ada ketentuan bahwa  perilaku manusia akan sama dihadapkan pada stimulus yang sama. Human side  dari keperawatan inilah yang disebut  art  atau kiat.

 

Nursing art berkenaan denagn ketrampilan-ketrampilan tehnis atau prosedur-prosedur tertentu sebagai bagian dari upaya keperawatan untuk membantu klien mengatasi masalah kesehatannya dan memenuhi kebutuhan dasarnya.

Perawat harus dapat mengkaji kapan suatu data menjadi indikasi adanya masalah, dan perlakuan seperti apa untuk mengatasi masalah tersebut. Oleh karenanya tehnik problem solving yang dikenal dengan proses keperawatan harus dikuasai karena ini merupakan bagian integral dari praktek keperawatan.

Keperawatan pada dasarnya adalah  human science and human care ; dan caring menyangkut upaya memperlakukan klien secara manusiawi dan utuh sebagai manusia yang berbeda dari manusia lainnya (Watson,1985)

Konsep-konsep diatas , human science and human car dan   atau  art and science

Hanya akan dikenal dan dirasakan konsumen keperawatan melalui perwujudan praktek keperawatan, dan untuk itu dibutuhkan  telaah  tentang lingkup  lingkup praktek keperawatan. Pada tulisan kali ini dikemukakan telaah lingkup praktek  keperawatan medikal-bedah:substansi praktek keperawatan, lingkup intervensi dan konsekwensi profesionalnya.

KEPERAWATAN DAN PRAKTEK KEPERAWATAN

            Keperawatan sebagaimana dirumuskan oleh  American Nurses Association (1980), adalah  Diagnosis and treatment of human responses to actual or potential health problem, rumusan ini menekankan bahwa dalam  keperawatan  dibutuhkan aktifitas untuk menelaah kondisi klien/pasien, menyimpulkan respon klien terhadap masalah yang dihadapinya; serta menentukan perlakuan keperawatan yang tepat untuk mengatasinya.

ICN (1987) merumuskan nursing sebagai

 

       NURSING  encompasses autonomous and collaborative care of individuals of all ages

      ,family, groups and communities, sick or well and in all settings. Nursing includes the       

      promotions of health, prevention of illness and the care of ill, disable and dying people.

     Advocacy,promotion of save environment, research, participation in shaping health  

     Policy  and in patient and health system management, and education are also key 

     Nursing roles.

            Rumusan diatas menuntun makna bahwa  intervensi keperawatan terhadap klien dilakukan secara otonom atau kolaboratif  dengan lingkup intervensi nya adalah upaya-upaya promotif, preventif, restoratif dan rehabilitatif serta pendampingan klien dalam menghadapi kematian; melalui aktifitas-aktifitas pendampingan klien,mengupayakan lingkungan yang aman bagi klien, penelitian dan terlibat dalam menentukan kebijakan kesehatan yang menyangkut  kepentingan pasien dan system kesehatan serta pendidikan.

Sedangkan OREM (2001) mendiskripsikan keperawatan keperawatan sebagai

       Nursing has its  special concern mans need for self-care action and the provision and 

      maintenance of it on a continuous basis in order to sustain life and health, recover

      from disease and injury and  cope with their effects. The condition that validates the

     existence of  a requirement for nursing in an adult is the absence of the ability to

    maintain  ………….self-care.

            Dari deskripsi diatas, Orem menekankan pentingnya tindakan intervensi untuk mengutamakan kebutuhan seseorang akan  self-care nya dan upaya yang terus menerus untuk mempertahankan kehidupan dan kesehatannya, pulih dari penyakit dan trauma serta mengatasi dampaknya. Pada orang dewasa  bantuan keperawatan dibutuhkan bila seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhan selfcare nya sehingga ybs tidak lagi dapat mempertahankan kondisi sehat, mengatasi penyakit dan dampak trauma.

       Dari  3 deskripsi tentang keperawatan diatas, dapat dikemukakan bahwa unsur-unsur penting dalam keperawatan adalah ;

  • Respon manusia terhadap masalah kesehatan baik actual maupun potensial merupakan fokus telaahan keperawatan
  • Kebutuhan dasar manusia, penyimpangan dan upaya pemenuhannya merupakanlingkup garapan keperawatan
  • Ketidak mampuan klien untuk memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri (self-care  deficit)  merupakan basis intervensi keperawatan , baik itu terjadi karena meningkatnya  tuntutan akan kemandirian atau menurunnya kemampuan untuk dapat memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri.
  • Meningkatnya tuntutan atau menurunnya kemampuan untuk pemenuhan kebutuhan  dasarnya dipengaruhi oleh fluktuasi kondisi ( sepanjang rentang sehat-sakit ) pada tugas perkembangann tertentu ( sepanjang daur kehidupan.

Unsur-unsur penting dalam keperawatan tersebut sejalan dengan paradigma keperawatan yang menempatkan  manusia sebagai  core/focus sentral  , sehingga siapapun dan bagaimanapun kondisi klien harus tetap diperlakukan secara manusiawi.

 RAKTEK KEPERAWATAN

Praktek keperawatan  adalah perwujudan profesi, dalam hal ini adalah hubungan professional  antara perawat-klien yang didasarkan pada kebutuhan dasar klien, intervensi keperawatan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar klien tersebut didasari oleh penalaran legal etis disertai dengan pendekatan yang manusiawi (humane). Intervensi tersebut dilakukan melalui kerjasama dengan klien, dengan atau tanpa kolaborasi denagn profesi kesehatan lain sesuai dengan lingkup wewenang dan tanggung jawabnya.

 Intervensi  (perlakuan) keperawatan dapat diwujudkan melalui  upaya-upaya  promotif yaitu membantu seseorang baik  yang sehat maupun disable untuk  meningkatkan level of

Wellness;  preventif dalam hal ini adalah mencegah penyakit  dan atau kecacatan, restoratif & rehabilitatif  adalah  asuhan selama kondisi sakit dan upaya pemulihannya, serta consolation of the dying  yaitu pendampingan bagi klien yang menghadapi kematian sehingga dapat melalui fase-fase kematian secara bermartabat dan tenang .

Jadi, praktek keperawatan merupakan serangkaian proses yang humanistic untuk melakukan  diagnosis  terhadap  respon klien dalam menghadapi masalah kesehatan dan dampaknya terhadap terpenuhi tidaknya kebutuhan dasarnya, menentukan perlakuan keperawatan yang tepat melalui bantuan keperawatan  baik bersifat total, parsial atau suportif-edukatif, menggunakan pendekatan proses keperawatan dan berpedoman pada standar asuhan dalam lingkup wewenang dan tanggung jawabnya .

LINGKUP PRAKTEK KEPERAWATAN MEDIKAL-BEDAH

Lingkup praktek keperawatan  medikal-bedah merupakan bentuk asuhan keperawatan pada klien DEWASA yang mengalami gangguan fisiologis baik yang sudah nyata atau terprediksi mengalami gangguan baik karena adanya penyakit, trauma atau kecacatan. Asuhan keperawatan meliputi perlakuan terhadap individu untuk memperoleh kenyamanan; membantu individu dalam meningkatkan dan mempertahankan kondisi sehatnya; melakukan prevensi, deteksi dan mengatasi kondisi berkaitan dengan penyakit ; mengupayakan pemulihan sampai kliendapat mencapai kapasitas produktif tertingginya; serta membantu klien menghadapi kematian secara bermartabat.

Praktek keperawatan medikal bedah menggunakan langkah-langkah ilmiah pengkajian, perencanaan, implementasi dan evaluasi; dengan memperhitungkan keterkaitan komponen-komponen bio-psiko-sosial klien dalam merespon gangguan fisiologis sebagai akibat penyakit, trauma atau kecacatan. 

LINGKUP KLIEN 

Klien yang ditangani dalam praktek keperawatan medikal bedah adalah orang dewasa, dengan pendekatan “one-to-one basis”. Kategori “dewasa” berimplikasi pada penegmbangan yang dijalani sesuai tahapannya. Tugas-tugas perkembangan ini dapat berdampak pada perubahan peran dan respon psikososial selama klien mengalami masalah kesehatan, dan hal ini perlu menjadi pertimbangan perawat dalam melakukan kajian dan intervensi keperawatan. Pendekatan keperawatan harus memperhitungkan “level kedewasaan” klien yang ditangan, dengan demikian pe;ibatan dan pemberdayaan klien dalam proses asuhan merupakan hal penting, sesuai dengan kondisinya; ini berkenaan dengan “Self-caring capacities” 

LINGKUP GARAPAN KEPERAWATAN   

            Untuk membahas lingkup garapan keperawatan medikal-bedah, kita perlu mengacu pada “focus telaahan – lingkup garapan dan basis intervensi keperawatan seperti telah dibahas pada bagian awal tulisan ini.

Fokus telaahan keperawatan adalah respon manusia dalam mengahdapi masalah kesehatan baik actual maupun potensial. Dalam lingkup keperawatan medikal bedah, masalah kesehatan ini meliputi gangguan fisiologis nyata atau potensial sebagai akibat adanya penyakit, terjadinya trauma maupun kecacatan berikut respon klien yang unik dari aspek-aspek bio-psiko-sosio-spiritual. Mengingat basis telaahan respon klien bersumber dari gangguan fisiologis, maka pemahaman akan patofisiologis atau mekanisme terjadinya gangguan dan (potensi) manifestasi klinis dari gangguan tersebut sangat mendasari lingkup garapan dan intervensi keperawatan.

          Penyakit, trauma atau kecacatan sebagai masalah kesehatan yang dihadapi klien dapat bersumber atau terjadi pada seluruh system tubuh meliputi system-sistem persyrafan; endokrin; pernafasan; kardiovaskuler; pencernaan; perkemihan; muskuloskeletal; integumen; kekebalan tubuh; pendengaran ; penglihatan serta permasalahan-permasalahan yang dapat secara umum menyertai seluruh gangguan system yaitu issue-isue yang berkaitan dengan keganasan dan kondisi terminal.

Lingkup Garapan

          Lingkup garapan keperawata  adalah kebutuhan dasar manusia, penyimpangan dan intervensinya. Berangkat dari focus telaahan keperawatan medikal bedah diatas, lingkup garapan keperawatan medikal bedah adalah segala hambatan pemenuhan kebutuhan dasar yang terjadi karena perubahan fisiologis pada satu atau berbagai sistem tubuh; serta modalitas dan berbagai upaya untuk mengatasinya.

            Guna menentukan berbagai hambatan pemenuhan kebutuhan dasar mansuai dan  modalitas yang tepat waktu untuk mengatasinya dibutuhkan keterampilan berfikir logis dan kritis dalam mengkaji secara tepat kebutuhan dasar apa yang tidak terpenuhi, pada level serta kemungkinan penyebab apa (diagnosis keperawatan). Hal ini akan menentukan pada perlakuan (treatment) keperawatan, dan modalitas yang sesuai. Disibi dibutuhkan keterampilan teknis dan telaah legal etis.

Basis Intervensi

            Dari focus telaahan dan lingkup garapan keperawatan medikal bedah yang sudah diuraikan sebelumya, basis intervensi keperawatan medikal bedah adalah ketidakmampuan  klien (dewasa) untuk memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri. (Self care deficit). Ketidakamampuan ini dapat terjadi karena ketidakseimbangan  antara tuntutan kebutuhan (Self – care demand) dan kapasitas klien untuk memenuhinya (Self-care ability) sebagai akibat perubahan fisiologis pada satu atau berbagai system tubuh. Kondisi ini unik pada setiap individu karena kebuthan akan self-care (Self care requirement) dapat berbeda-beda, sehingga dibutuhkan integrasi keterampilan-keterampilan berfikir logis-kritis, teknis dan telaah legal-etis untuk menentukan bentuk intervensi keperawatan mana yang sesuai, apakah bantuan total, parsial atau suportif-edukatif yang dibutuhkan klien.

Informasi Pendidikan keperawatan di Indonesia

Filed under: Informasi Pendidikan keperawatan di Indonesia — mohammadnabiels @ 5:33 am

Pendidikan keperawatan merupakan sebuah proses dimana disadari bahwa long life education sangat penting untuk perawat dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan keahliannya dalam praktek keperawatan. Pendidikan berkelanjutan pada keperawatan dan pengembangan staff harus berdasarkan pada prinsip-prinsip belajar mengajar secara dewasa dan selalu diarahkan pada prinsip-prinsip etik. Pada pusat-pusat pelayanan kesehatan yang tertier memerlukan staf dengan pengetahuan yang spesialistik.

Indonesia telah memilih untuk menata sistem pendidikan keperawatan sebagai upaya awal dan kunci peletakan landasan pengembangan profesi keperawatan. Perkembangan pendidikan keperawatan sejak Florence Nightingale atau sejak Rufaida di zaman kerasulan semakin pesat dan berkembang. Bahkan keperawatan sudah diakui sebagai profesi yang terus berkembang sesuai dengan tuntutan masyarakat serta kemajuan ilmu dan technologi. Globalisasi tidak bisa ditolak, bahkan tenaga kesehatan asing akan menguasai institusi kesehatan di mana-mana. Sehingga pembenahan di berbagai segi harus dilakukan dan dituntaskan.

Keperawatan sebagai sebuah profesi yang didalamnya terdapat Body of Knowledge yang jelas, memiliki dasar pendidikan yang kuat sehingga dapat dikembangkan setinggi-tingginya. Hal ini menyebabkan profesi keperawatan selalu dituntut untuk mengembangkan diri dan berpartisipasi aktif dalam sistem pelayanan kesehatan di Indonesia dalam upaya meningkatkan profesionalisme keperawatan agar dapat memajukan pelayanan kesehatan di negeri ini.

Berdasarkan pemahaman tersebut, dan untuk mencapainya, dibentuklah sistem pendidikan tinggi keperawatan. Institusi pendidikan keperawatan di Indonesia  harus menyadari bahwa untuk menghasilkan lulusan yang memenuhi syarat kredensial dari negara lain sehingga lulusannya bisa diterima bekerja di semua tatanan dan diseluruh dunia maka ada berbagai aspek yang harus diperhatikan antara lain adalah para lulusan harus memperoleh pengetahuan teoritis dan pengalaman praktek klinik yang memadai, dengan mengacu konsep pendidikan keperawatan yang berpusat pada pemenuhan kebutuhan klien dan hubungan perawat klien.

Sayangnya, sampai saat ini masih terdapat kerancuan dalam sistem pendidikan kesehatan di Indonesia khususnya bagi sistem pendidikan keperawatan, ketika dibutuhkan lulusan-lulusan instiutusi keperawatan yang berkualitas, yang ada adalah semakin menjamurnya institusi kesehatan (sekolah tinggi ilmu kesehatan/ STIKES) yang dengan mudahnya mendirikan institusi kesehatan tanpa mengindahkan dan memperhatikan aspek-aspek tersebut di atas.

Di berbagai wilayah di Indonesia misalnya, karena tidak ada tempat yang memadai, ruko atau komplek persewaan dagang bahkan dijadikan sebagai tempat perkuliahan bagi beberapa sekolah tinggi yang mengaku akan mencetak tenaga-tenaga kesehatan professional. Tidak mempedulikan kualitas pengajaran, tenaga pengajar maupun aspek lain yang seharusnya menjadi pertimbangan utama mendirikan sekolah tinggi kesehatan. Sepertinya, fokus utama pendirian sekolah tinggi kesehatan seperti ini adalah sebagai pusat bisnis atau sekedar money oriented. Yang patut dipertanyakan dalam hal ini justru adalah pihak yang mempemudah perizinan pendirian sekolah-sekolah tinggi kesehatan tersebut.

Sebagai perbandingan sistem pendidikan di negara maju bahwa untuk memenuhi segala tuntutan masyarakat dan kesetaraan profesi dengan tenaga medis lain, dokter misalnya, maka pendidikan keperawatan menuangkan dalam isi kurikulum yang tentu saja dikaitkan dengan tingkat pendidikan/jenis pendidikan yang ditempuh oleh calon perawat professional tersebut. ANA (American Nurse Assosiation) telah menetapkan bahwa persyaratan perawat professional minimalnya Bachelor in Nursing atau Sarjana Keperawatan, sedangkan Diploma (III/IV) adalah staf vokasional yang bertugas secara teknis, serta di bawah supervisi dari registered nurse/ perawat professional dan dalam posisi mereka adalah LPN/Licence Pratical Nurse atau di Australia dan Inggris disebut Enroll Nurse. Oleh karena itu, seluruh organisasi keperawatan di dunia mengacu kepada pernyataan ANA tersebut.

Melihat kondisi tersebut, maka sistem pendidikan tinggi keperawatan di Indonesia seharusnya melakukan berbagai  persiapan dalam penerapan kurikulum pada proses belajar mengajar yaitu dengan cara melakukan kolaborasi dengan organisasi profesi keperawatan di Indonesia untuk menetapkan standard kompetensi pendidikan, melakukan perbaikan dalam sistem pembelajaran yang berfokus pada pelajar (student learning centered) sehingga mahasiswa keperawatan dilatih untuk belajar mengambil keputusan dan berfikir kritis, menggunakan kurikulum yang berdasarkan kompetensi, berorientasi pada perkembangan kebutuhan pelayanan keperawatan secara global, mengikuti perkembangan dan pelayanan keperawatan dunia, serta mempersiapkan lulusan untuk bisa bekerja secara nasional dan global misalkan dengan peningkatan kemampuan berbahasa inggris.

Melihat begitu berat untuk mencetak tenaga keperawatan yang professional, maka tidak hanya dibutuhkan modal untuk membangun gedung megah dan membangun sekolah tinggi keperawatan, atau bahkan hanya sekedar ajang bisnis. Tidak masalah jika institusi-institusi pendidikan kesehatan yang menjamur bisa memenuhi kompetensi tersebut. Jika tidak? Jangan pernah berharap ada keprofesionalan dan perbaikan dalam bidang keperawatan dan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Karena bisa jadi, masyarakat sebagai pasien juga dipandang sebagai pusat bisnis.

perkembangan teknologi keperawatan indonesia

Filed under: perkembangan teknologi keperawatan indonesia — mohammadnabiels @ 5:28 am

Era globalisasi dan era informasi yang akhir-akhir ini mulai masuk ke Indonesia telah membuat tuntutan-tuntutan baru di segala sektor dalam Negara kita. Tidak terkecuali dalam sektor pelayanan kesehatan, era globalisasi dan informasi seakan telah membuat standar baru yang harus dipenuhi oleh seluruh pemain di sektor ini. Hal tersebut telah membuat dunia keperawatan di Indonesia menjadi tertantang untuk terus mengembangkan kualitas pelayanan keperawatan yang berbasis teknologi informasi. Namun memang kita tidak bisa mnutup mata akan hambatan-hambatan yang dihadapi oleh keperawatan di Indonesia, diantaranya adalah keterbatasan SDM yang menguasai bidang keperawatan dan teknologi informasi sevara terpadu, masih minimnya infrastruktur untuk menerapkan sistem informasi di dunia pelayanan, dan masih rendahnya minat para perawat di bidang teknologi informasi keperawatan.

Kualitas atau mutu pelayanan keperawatan di rumah sakit bergantung kepada kecepatan, kemudahan, dan ketepatan dalam melakukan tindakan keperawatan yang berarti juga pelayanan keperawatan bergantung kepada efisiensi dan efektifitas struktural yang ada dalam keseluruhan sistem suatu rumah sakit. Pelayanan rumah sakit setidaknya terbagi menjadi dua bagian besar yaitu pelayanan medis dan pelayanan yang bersifat non-medis, sebagai contoh pelayanan medis dapat terdiri dari pemberian obat, pemberian makanan, asuhan keperawatan, diagnosa medis, dan lain-lain. Ada pun pelayanan yang bersifat non medis seperti proses penerimaan, proses pembayaran, sampai proses administrasi yang terkait dengan klien yang dirawat merupakan bentuk pelayanan yang tidak kalah pentingnya.

Pelayanan yang bersifat medis khususnya di pelayanan keperawatan mengalami perkembangan teknologi informasi yang sangat membantu dalam proses keperawatan dimulai dari pemasukan data secara digital ke dalam komputer yang dapat memudahkan pengkajian selanjutnya, intervensi apa yang sesuai dengan diagnosis yan sudah ditegakkan sebelumnya, hingga hasil keluaran apa yang diharapkan oleh perawat setelah klien menerima asuhan keperawatan, dan semua proses tersebut tentunya harus sesuai dengan NANDA, NIC, dan NOC yang sebelumnya telah dimasukkan ke dalam database program aplikasi yang digunakan. Namun ada hal yang perlu kembali dipahami oleh semua tenaga kesehatan yang menggunakan teknologi informasi yaitu semua teknologi yang berkembang dengan pesat ini hanyalah sebuah alat bantu yang tidak ada gunanya tanpa intelektualitas dari penggunanya dalam hal ini adalah perawat dengan segala pengetahuannya tentang ilmu keperawatan.

Contoh nyata yang dapat kita lihat di dunia keperawatan Indonesia yang telah menerapkan sistem informasi yang berbasis komputer adalah terobosan yang diciptakan oleh kawan-kawan perawat di RSUD Banyumas. Sebelum menerapkan sistem ini hal pertama yang dilakukan adalah membakukan klasifikasi diagnosis keperawatan yang selama ini dirasa masih rancu, hal ini dilakukan untuk menghilangkan ambiguitas dokumentasi serta memberikan manfaat lebih lanjut terhadap sistem kompensasi, penjadwalan, evaluasi efektifitas intervensi sampai kepada upaya identifikasi error dalam manajemen keperawatan. Sistem ini mempermudah perawat memonitor klien dan segera dapat memasukkan data terkini dan intervensi apa yang telah dilakukan ke dalam komputer yang sudah tersedia di setiap bangsal sehingga akan mengurangi kesalahan dalam dokumentasi dan evaluasi hasil tindakan keperawatan yang sudah dilakukan.

Pelayanan yang bersifat non-medis pun dengan adanya perkembangan teknologi informasi seperi sekarang ini semakin terbantu dalam menyediakan sebuah bentuk pelayanan yang semakin efisien dan efektif, dimana para calon klien rumah sakit yang pernah berobat atau dirawat di RS idak perlu lagi menunggu dalam waktu yang cukup lama saat mendaftarkan diri karena proses administrasi yang masih terdokumentasi secara manual di atas kertas dan membutuhkan waktu yang cukup lama mencari data klien yang sudah tersimpan, ataupun setelah sekian lama mencari dan tidak ditemukan akhirnya klien tersebut diharuskan mendaftar ulang kembali dan hal ini jelas menurunkan efisiensi RS dalam hal penggunaan kertas yang tentunya membutuhkan biaya. Bandingkan bila setiap klien didaftarkan secara digital dan semua data mengenai klien dimasukkan ke dalam komputer sehingga ketika data-data tersebut dibutuhkan kembali dapat diambil dengan waktu yang relatif singkat dan akurat.

Referensi

  1. Belajar Infromatika Keperawatan dari RSUD Banyumas. http://www.anisfuad.wordpress.com/ (18 oktober 2007, 10:32:08 AM).
  2. Clark, J & Lang, N. 1992. Nursing next advance:an international classification for nursing practice. International Nursing Review, 39, 102-112, 128.
  3. Penerapan Teknologi Informasi untuk Meningkatkan Pelayanan Rumah Sakit dalam Menyongsong PJPT. http://www.portalkabe.com/ (18 oktober 2007, 11:47:08 AM).
  4. Thede, Linda Q. 2003. Informatics and Nursing: Opportunities & challenges. Philadelpia: Lippincott Williams & Wilkins.

May 2, 2009

Filed under: Uncategorized — mohammadnabiels @ 3:30 am

aku adalah seorang mawasiswa fkik uin syarif hidayatullah jakarta

Intisari
Perkembangan teknologi informasi dapat meningkatkan kinerja dan memungkinkan berbagai kegiatan dapat dilaksanakan dengan cepat, tepat dan akurat, sehingga akhirnya akan meningkatkan produktivitas. Perkem-bangan teknologi informasi memper-lihatkan bermunculannya berbagai jenis kegiatan yang berbasis pada teknologi ini, seperti e-government, e- commerce, e-education, e-medicine, e-e-laboratory, dan lainnya, yang kesemuanya itu berbasiskan elektronika.

Pendahuluan
Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan. Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan, dan teknologi telekomunikasi digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global.
Peran yang dapat diberikan oleh aplikasi teknologi informasi ini adalah mendapatkan informasi untuk kehidupan pribadi seperti informasi tentang kesehatan, hobi, rekreasi, dan rohani. Kemudian untuk profesi seperti sains, teknologi, perdagangan, berita bisnis, dan asosiasi profesi. Sarana kerjasama antara pribadi atau kelompok yang satu dengan pribadi atau kelompok yang lainnya tanpa mengenal batas jarak dan waktu, negara, ras, kelas ekonomi, ideologi atau faktor lainnya yang dapat menghambat bertukar pikiran.
Perkembangan Teknologi Informasi memacu suatu cara baru dalam kehidupan, dari kehidupan dimulai sampai dengan berakhir, kehidupan seperti ini dikenal dengan e-life, artinya kehidupan ini sudah dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan secara elektronik. Dan sekarang ini sedang semarak dengan berbagai huruf yang dimulai dengan awalan e
seperti e-commerce, e-government, e-education, e-library, e-journal, e-medicine, e-laboratory, e-biodiversitiy, dan yang lainnya lagi yang berbasis elektronika.

Hello world!

Filed under: Uncategorized — mohammadnabiels @ 2:35 am

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Create a free website or blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.